“Safitri, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat, tidak habis pikir. Nilai tabungannya yang sekitar Rp 4 juta sudah dua bulan ini terus merosot saldonya. Padahal, ia menabungkan uangnya di bank semata-mata untuk mendapatkan bunga sehingga uangnya beranak-pinak.
“Kalau begini caranya, mending uangnya saya simpan di celengan atau di bawah bantal,” kata ibu tiga anak ini menggerutu.”
Dikutip dari “Kompas, 14 April 2009, Perbankan: Penabung kecil pun terkecoh”.
Kita mungkin masih ingat dengan lagu “Ayo Menabung” karya Titik Puspa yang mengajak kita untuk terbiasa dengan menabung. Saat lagu itu dibuat, minat rakyat Indonesia untuk menabung masih sangat kurang sehingga dengan menciptakan lagu tersebut diharapkan orang terbiasa dengan menabung di bank dan bukan menaruhnya di bantal saja.
Saat ini keadaan sudah sangat berbeda. Seperti digambarkan di alinea awal, sekarang ketika orang memiliki tabungan di bank dibawah nilai tertentu -misalnya 6 juta-, maka bila tabungan tersebut dibiarkan saja tanpa ditambah, maka akan tergerus oleh biaya administrasi dan pajak.Semakin lama, dana nasabah bukannya bertambah malah akan semakin berkurang.
Kompas menuliskan contoh di bank BCA dimana untuk tabungan Tahapan Silver, BCA mengenakan biaya administrasi sebesar Rp.10.000 sebulan. Adapun sukubunga untuk tabungan bersaldo 1 s.d 10 juta sebesar 2 persen pertahun.
Dengan asumsi nilai tabungan awal Rp 5 juta dan tidak pernah ditambah selama setahun, nasabah akan mendapat bunga Rp 100.000 per tahun. Setelah dipotong pajak 20 persen, pendapatan nasabah tinggal Rp 80.000. Padahal, biaya administrasi yang harus dibayar selama setahun mencapai Rp 120.000. Alhasil, dana berkurang Rp 40.000 dalam setahun.
Penabung kian cepat kehilangan uangnya jika nilai tabungan di bawah Rp 1 juta. Sebab bunganya nol persen. Penabung tidak akan tergerus uangnya jika saldonya minimal Rp 6 juta. Pada level itu, biaya administrasi dan bunga mencapai titik keseimbangan.
Karenanya, nasabah yang mengira bahwa hanya dengan menabung maka dananya akan terus bertambah tentu akan merasa kecele.
Kedepannya, paradigma ayo menabung ke bank seharusnya ditingkatkan lagi menjadi ayo berinvestasi.
Investasi menurut saya adalah menyimpan uang dengan tujuan memperoleh hasil dimasa depan yang lebih besar dibandingkan nilai inflasi. Bila contoh yang diberikan Kompas kita pakai kembali, maka menabung di bank sebesar 6 juta lalu setahun kemudian uang itu tetap bernilai 6 juta, maka itu bukan saya anggap investasi. Kalau uang 6 juta tersebut dikatakan di investasikan, maka hasil yang diperoleh setahun kemudian minimal adalah Rp.6,6 jt dengan asumsi inflasi adalah 10% /thn.
Kemana harus Investasi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita juga harus tahu sarana untuk berinvestasi. Terdapat berbagai macam sarana berinvestasi yang ada di luar sana. Untuk memilih sarana investasi tersebut, maka kita juga perlu tahu dengan resiko dari tiap investasi tersebut. Prinsip High Risk High Return berlaku di dalam dunia investasi. Semakin tinggi hasil yang didapatkan, semakin tinggi pula resikonya.
Beberapa contoh sarana investasi menurut Safir Senduk,adalah :
1. Deposito.
Sarana investasi ini memiliki resiko yang paling rendah setelah tabungan tapi dengan hasil yang lebih besar. Dipasaran, terdapat deposito syariah yang memberikan bagi hasil setara 8 s.d 12% bunga tabungan.
2. Emas.
Harga emas biasanya berbanding lurus dengan tingkat inflasi dan dollar amerika. Sehingga disaat inflasi meningkat, maka biasanya harga emas juga meningkat. Emas yang sebaiknya digunakan sebagai sarana investasi adalah emas batangan dan bukan emas perhiasan.
3. Reksadana.
Reksadana saat ini dapat digunakan oleh investor kecil dan menengah sebagai sarana investasi. Dana investor akan dikelola oleh Manager Investasi yang lebih ahli untuk diinvestasikan di pasar modal maupun pasar uang. Reksadana syariah juga mulai banyak diterbitkan oleh MI dan dana awal untuk membelinya juga sangat terjangkau yakni mulai Rp.100 ribu rupiah. Hasil yang didapatkan juga lebih tinggi dibanding deposito yakni bisa mencapai 25%/thn bahkan lebih. Tapi ingat resiko juga berbanding lurus dengan keuntungannya.
4. Tanah/Property.
Tanah dan Property adalah salah satu sarana investasi yang senantiasa menguntungkan dimasa depan. Harga tanah dan property umumnya senantiasa naik sesuai dengan lokasi. Sayangnya, modal yang diperlukan juga relatif besar dan untuk mencairkannya juga butuh waktu.
5. Asuransi Unit Link.
Unitlink merupakan produk Asuransi yang berisi proteksi dan investasi. Diharapkan, dengan memiliki produk ini, masyarakat yang berniat Investasi sekaligus akan terproteksi dengan suransi jiwa. Sebaiknya produk ini digunakan sebagai sarana investasi bila calon peserta sudah tahu untung ruginya.
Ayo..jangan sekedar menabung, mari berinvestasi !!!